Alasan Indonesia Mudah Termakan HOAX

Alasan Indonesia Mudah Termakan HOAX, Menurt Samuel A. Pangerpan yang merupakan direktur jenderal aplikasi dan informatika mengungkapkan bahwa saat ini para penggua internet di Indonesia sudah mencapai 65% dari total populasi yang ada di Indonesia sendiri, Samuel juga memperlihatkan rata rata dari durasi tiap orang menggunakan jasa pembuatan website bandung internet di Indonesia mencapai hingga 8 Jam dan 44 Menit, sementara sekitar 3 jam 15 menit rata rata digunakan untuk menatap halaman media social yang mereka punya, jika dilihat dari data memang tingkat penggunaan internet cukup meningkat namun untuk tingkat kepercayaan terhadap kebenaran informasi masih minim dan masih di bawa rata rata, menurut survei yang dilakukan oleh Centre for International Governance Innovation (CIGI) yang merupakan lembaga riset yang mendata dan mencatat tingkat kepercayaan dan kebenaran tentang suatu informasi ang beredar di masyarakat telah melakukan riset tehadap beberpa negara yang ada di dunia dan Indonesia termasuk ke dalam riset tersebut, dalam survue tersebut hasil dari riset ini menunjukan bahwa negara kita negara Indonesia memiliki hasil yang di bawah rata rata dalam hal kepercayaan kebenaran informasi yang beredar di internet.

Semakin tinggi literasi dari masyarakt maka Reseller QRMA semakin tinggi pula tingkat tidak percaya dan memakan mentah mentah apa saja yang ada di internet ini, jika kita menilik sendiri memang terkadang masih bayak kasus yang kita temui akan masalah hoax, tentunya ini menjadi PR bagi KOMINFO untuk segera mencari cara agar dapat mengurangi masalah ini, dan kominfo sendiri sekarang sudah mempunyai plan atau rencana tersendiri terkait dengan hal tersebut dimana katanya rencana tersebut akan dilakukan selama 3 tahun kedepan yakni tahun 2018 hingga 2020, solusi yang akan di ambil ialah literasi digital yang di percaya sangat mampu dan merupakan salah satu cara paling ampuh untuk mengurangi masalah di dunia maya ini, mulai dari mengurangi konten konten pornografi, hoax, radikalisme, fitnah, perundungan siber dan juga masalah terorisme. Samuel sendiri selaku direktur jenderal aplikasi dan informatika juga menyebutkan bahwa ketika literasi digital ini sudah diresap oleh masyarakat luas maka konten konten yang di anggap bermasalah itupun akan sedikit demi sedikit berkurang dengan sendirinya.